Sabtu, 15 Juni 2013



POLA PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA (SPANYOL)

A.    PENDAHULUAN
Negeri Andalusia yang sekarang termasyhur dengan nama Spanyol. Sejak dari Abad VIII Masehi merupakan salah satu pondasi yang kuat dari peradaban, Kebudayaan dan Pendidikan Islam, yang di mulai dari mempelajari Ilmu Agama dan Sastra, Kemudian meningkat dengan mempelajari Ilmu-ilmu Akal. Pada waktu yang sangat singkat Cordova dapat menyaingi Bagdad dan Cairo dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Kesusastraan.
Pada masa pemerintahan Abdurrahman III pada abad X Masehi, Negeri Andalus telah mencapai puncak kemegahan dalam segi materi dan maknawi serta memperoleh kekuatan dan kebesaran yang telah dicapai oleh Kerajaan-kerajaan di bagian timur abad IX Masehi, Cordiva di Spanyol tetap menjadi Ibu Kota dan menikmati kemegahan yang tiada taranya[1].
Spanyol adalah Negara yang subur. Kesuburan itu menghasilkan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya menghasilkan pemikir hebat. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komoditas-komoditas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (Orang Islam dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (Penduduk antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk di jadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua Komoditas itu kecuali Kristen memberikan saham Intelektual terhadap terbentuknya lingkungan Budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan Ilmiah, Sastra, dan Pembangunan fisik di Spanyol. [2]
Dari uraian di atas penulis ingin mengulas tentang Pola Pendidikan Islam di Andalusia sehingga menjadi perluasan wawasan pemikiran kita mengenai Sejarah pendidikan Islam  di Andalusia (Spanyol).
B.     POLA PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA
Pola bersinonim kata dengan patron, system, atau cara. Sedangkan Pedidikan Islam terdiri dari dua suku kata yang di rangkai menjadi satu. Syamsul Nizar menulis dalam bukunya, Pendidikan Islam adalah rangkaian proses sistematis, terencana dan komperhensif dalam upaya mentransfer nilai-nilai kepada anak didik, mengembangkan potensi yang pada diri anak didik, sehingga anak didik mampu melaksanakan tugasnya di muka bumi dengan sebaik-baiknya sesuai dengan nilai-nilai Illahiyah yang di dasarkan pada ajaran Agama Al-Qur’an dan Hadist pada semua dimensi kehidupan[3].
Dengan pengertian di atas maka dapat penulis uraikan bahwa yang di maksud pola pendidikan Islam merupakan suatu system, atau cara yang kompleksitas dan mempunyai komponen yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain demi mencapai pendidikan Islam. Pola  pendidikan Islam yang di maksud disini adalah Pola Pendidikan Islam di Andalusia (Spanyol).
1.      Kuttab
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran peradaban dan  kebudayaan yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang di lalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad XII. Minat terhadap pendidikan dan Ilmu pengetahuan serta filsafat mulai di kembangkan pada Abad IX M selama pemerintahan penguasa Bani Umaiyah yang ke- 5, Muhammad ibn Abd Al-Rahman (832-886 M)[4].
Sebagai mana yang ditulis dalam sejarah peradaban Islam, Semakin meluasnya wilayah kekuasan Islam, telah ikut memperkaya dan memotivasi umat untuk mendirikan lembaga pendidikan seperti Kuttab[5] dan Masjid. Begitu pula di Andalusia terdapat banyak Kuttab-kuttab yang menyebar sampai pinggiran kota. Pada lembaga ini, para siswa mempelajari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, seperti fikih, bahasa dan sastra, musik dan kesenian. Kuttab termasuk lembaga pendidikan terendah yang sudah tertata dengan rapi di sa’at itu, sehingga kuttab-kuttab itu mempunyai banyak tenaga pendidik dan siswa-siswanya. Pada lembaga ini siswa-siswanya mempelajari berbagai ilmu pengetahuan diantaranya adalah:
a.       Fiqih
Di Andalusia pemeluk Agama Islam menganut Mazhab Maliki, Maka para ulama memperkenalkan materi-materi fiqih dari Mazhab-mazhab Imam Malik. Tokoh-tokoh yang termasyhur disini di antaranya Ziyad ibn Abd ar-Rahman, dan perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya. Yahya sempat menjadi qadhi pada masa Hisyam ibn Abd Rahman. Ahli-ahli fiqih lainnya diantaranya Abu Bakar ibn al-Qutiyah, Munzir Ibn Said al-Baluthi, dan Ibu Hazm[6] yang sangat populer di kala itu.
Santri pada Kuttab mendapatkan pelajaran yang cukup lengkap dari ulama-ulama yang ahli di bidang ilmunya, sehingga para siswanya lebih cepat menyerap ilmu pelajaran yang di pelajarinya dan menumbuhkan minat belajar di kala itu[7].
b.      Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan bahasa Administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol, Bahasa ini  dapat di pelajari di kuttab, bahkan kepada siswanya di wajibkan untuk selalu melakukan dialog dengan memakai bahasa resmi Islam (bahasa Arab)[8], sehingga bahasa ini cepat populer dan menjadi bahasa keseharian. Diantara Tokoh-tokoh bahasa tersebut yang termasyhur adalah Ibn Malik yang mengarang kitab Al-Fiyah, Ibn Sayidih, Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan ibn Usfur, dan Abu Hayyan Al-Gharnathi. Di bidang sastra tersebut nama Ibn Abd. Rabbih dengan karya al-‘Iqd al-Farid, Ibn Bassam dengan karyanya al-Dzakhirah fi Mahasin ahl al-Jazirah, dan Al-Fath ibn Khaqan karya kitabnya al-Qalaid,[9].
c.       Musik dan Seni
Sya’ir merupakan ekspresi utama dari peradaban Spanyol. Pada dasarnya sya’ir Spanyol didasarkan pada model-model sya’ir Arab yang membangkitkan sentimen prajurit dan interes faksional para penakluk Arab. Di spanyol berkembang musik-musik yang bernuansa Arab yang merangsang tumbuhnya nilai-nilai kepahlawanan, banyak tokoh musik dan seni bermunculan ketika itu, diantaranya Al-Hasan ibn Nafi yang di juluki Ziryad (789-857).
Ziryad selalu tampil dalam acara-acara penjamuan kenegaraan di Cordova, karena ia merupakan aransemen musik yang handal dan piawai pula mengubah syair-syair lagu yang pantas di konsumtif kepada seluruh lapisan dan tingkat umur. Kepiawaiannya bermusik dan seni membuat ia orang termasyhur di kala itu. Ilmu yang dimilikinya itu di ajarkan kepada anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan dan juga kepada para budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas[10]sangat cepat.
2.      Pendidikan Tinggi
Masyarakat Arab yang berada di Spanyol merupakan pelopor peradaban dan kebudayaan juga pendidikan, antara  pertengahan abad kedelapan sampai akhir abad ketiga belas. Melalui usaha yang mereka lakukan, ilmu pengetahuan kuno dan ilmu pengetahuan Islam dapat di transmisian ke Eropa. Bani Umaiyah yang berada di bawah kekuasaan Al-Hakam menyelenggarakan pengajaran dan telah memberikan banyak sekali penghargaan kepada para sarjana.
Ia telah membangun Universitas Cordova berdampingan dengan Masjid Abdurrahman III, yang selanjutnya tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang terkenal di antara jajaran lembaga pendidikan lainnya di dunia. Universitas ini menandingi dua Universitas lainnya, yaitu Al-Azhar di Kairo dan Nizhamiyah di Baghdad, dan telah menarik perhatian dari para pelajar tidak hanya dari Spanyol tetapi juga dari tempat lainnya seperti dari Negara-negara Eropa, Afrika dan Asia[11].
Diantara para Ulama yang bertugas di Universitas Cordova adalah Ibn Qutaibah yang di kenal sebagai ahli Tata Bahasa dan Abu Ali Qali yang di kenal sebagai pakar Biologi. Universitas ini memiliki perpustakaan yang  menampung koleksi sekitar empat juta buku. Universitas ini mencakup jurusan yang meliputi astronomi, matematika, kedokteran, teologi dan hokum. Jumlah muridnya mencapai seribu orang. Selain itu, Mata kuliah yang di berikan di Universitas-universitas tersebut meliputi teologi, hokum Islam, kedokteran, kimia, filafat dan astronomi.
Sebagai prasasti pada pintu gerbang Universitas yang di sebutkan terakhir di tulis sebagai berikut: Dunia ini di tompang oleh empat hal, yaitu Pengajaran Tentang Kebijaksanaan, Keadilan Dari Penguasa, Ibadah Dari Orang-orang Yang Sholeh, dan Keberanian Yang Pantang Menyerah[12].
Secara garis besar pada perguruan tinggi di Spanyol terdapat dua konsentrasi ilmu pengetahuan, yaitu:
a.       Filsafat
Atas inisiatif dari Al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis di impor dari Timur dalam jumlah besar, Sehingga Cordova dengan perpustakaan dan Universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin Dinasti Bani Umaiyah ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Ibnu Bajjah adalah filosof muslim yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan di Andalus. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Yahya ibn al-Sha’ig, yang lebih terkenal dengan Ibnu Bajjah.Orang Barat menyebutnya Avenpace. Ia di lahirkan di Saragoza (Spanyol) pada akhir abad ke-5 H/ abad ke-11 M.[13] Ia pindah ke Sevilla da Granada, meninggal karena keracunan di Fez tahun 1138 M dalam usia muda. Seperti Al-farabi dan Ibnu Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis, Magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid[14].
Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah Timur Granada dan wafat pada usia lanjut pada tahun 1185 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Bagian akhir Abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad Ibn Muhammad Rusyd ia dilahirkan di Cordova, Andalus pada tahun 510 H/1126 M[15]. Kepiawaiannya yan luar biasa dalam ilmu hokum, sehingga dia diangkat Ketua Mahkamah Agung di Cardova (Qadhi al-Qudhat), dan wafat tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah klasik tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqih dengan karyanya yang termasyhur Bidayah al-Mujtahid.
b.      Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn farnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia adalah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu.[16] Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dengan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm Al-Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan Al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian Barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valensia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri Muslim di Mediterania dan Sicilia. Dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn Al-Khatib(1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibnu Khaldun dari Tunis adalah penulis filsafat sejarah[17].
C.    Faktor Pendukung Kemajuan Pendidikan Islam di Spanyol
a.       Adanya dukungan dari para penguasa, kemajuan Spanyol Islam sangat di tentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa serta mencintai ilmu pengetahuan, juga memberikan dukungan dan penghargaan terhadap para ilmuan dan cendikiawan.
b.      Didirikannya sekolah-sekolah Universitas-universitas di beberapa kota di Spanyol oleh Abd Al-Rahman III Al-Nashir, dengan Universitasnya yang terkenal di Cardova, Sevilla, Malaga, dan Granada. Serta di bangunnya perpustakaan-perpustakaan yang memiliki koleksi buku-buku yang cukup banyak.
c.       Banyaknya para sarjana Islam yang datang dari ujung Timur sampai ujung Barat wilayah Islam dengan membawa berbagai buku dan berbagai gagasan.Ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat apa yang di sebut kesatuan budaya Islam.[18]
d.      Adanya persaingan antara Abbasiyyah di Baghdad dan Umaiyah di  Spanyol dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Kompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan dengan didirikannya Universitas Cordova yang menyaingi Universitas Nizhamiyah di Baghdad yang merupakan persaingan positif tidak selalu dalam bentuk peperangan.[19]
D.    Luluhnya Kedikdayaan Islam di Andalusia
Dalam sejarah dan literatur yang ada mengisyaratkan bahwa, kedikdayaan Islam di Andalusia hanya mampu bertahan delapan abad saja, kalau dihitung memang waktu yang cukup panjang dan terjadinya beberapa kali pergantian dinasti. Namun pada akhirnya datang juga masa yang ditakuti yaitu masa-masa kehancuran, yang sampai hari ini masih belum bangkit dari keluluhan itu.
Di antara penyebab  keruntuhan peradaban dan pendidikan Islam di Andalusia adalah:
  1. Konflik Agama
Pada akhir-akhir kemajuan peradaban pendidikan Islam di Andalusia, telah muncul  kepermukaan paham-paham dan perbedaan keyakinan. Kondisi yang tidak menguntungkan bagi umat Islam telah membuat “berani” umat kristiani menampakkan dirinya ke permukaan. Bahkan dengan terang-terangan telah pula berani menentang kebijakan penguasa Islam ketika itu.
 Para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahahan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hierarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata.
Kondisi seperti ini dapat di prediksi, bahwa kelengahan umat Islam termasuk toleransi dan wewenang yang di berikan kepada umat Kristen telah di manfaatkan untuk mencari kelemahan Islam di saat Islam lengah di kala itu. Hal ini diperkuat pula oleh Al-Quran bahwa umat Kristen itu tidak akan pernah diam dan senang, sebelum Islam bertekuk lutut kepadanya.
  1. Ideologi perpecahan
Istilah ‘ibad dan muwalladun[20] perendahan derajat kepada orang pribumi yang mukallaf selalu di lakukan oleh orang-orang Islam keturunan Arab, sehingga kelompok-kelompok etnis non-Arab selalu menimbulkan kegaduhan dan sering menggerogoti serta merusak perdamaian atas celaan dan pemisahan kasta tersebut.
Kultur sosial kemasyarakatan ketika itu amat berpeluang besar  terjadinya pertikaian, apalagi dengan tidak adanya sosok pemimpin yang dapat mempersatukan ideology yang telah memecah belah persatuan. Sehingga keamanan negeri tidak lagi bisa terjamin dengan baik dan terjadinya perampokan di mana-mana. Kondisi seperti ini di manfaatkan oleh umat kristiani untuk menyusun kekuatan.
  1. Krisis Ekonomi
Dalam situasi yang semakin sulit, umat Kristiani tidak lagi jujur membayarkan upetinya kepada penguasa Islam dengan berbagai dalih, supaya upeti dan pajak tidak lagi di kumpulkan pada penguasa. Sering terjadi perampokan yang di skenario oleh kelompok kristriani, dan pada akhirnya menuduh umat Islam yang berbuat aniaya kepadanya.
Keadaan yang tidak kondusif ini membuat inkam Negara jauh berkurang, dan akhirnya berdampak besar kepada masyarakat. Padahal di pertengahan kekuasaan Islam, pemerintah lebih memperhatikan kemajuan pendidikan dan lupa menata perekonomian, sehingga melemahkan ekonomi Negara dan kekuatan militer serta politik.
  1. Peralihan Kekuasaan
Granada  yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spayol jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella,[21] sementara di kalangan Islam sendiri terjadi perpindahan kekuasaan dengan system ahli waris. Pola yang masih di pertahankan umat Islam dalam menggantikan tampuk kepemimpinan kadang jauh dari kelayakan. Sebagai mana bukti sejarah yang mengangkat seorang Raja atas pertimbangan keturunan yang masih berusia belasan tahun.
Peralihan kekuasaan seperti ini sering keliru di dalam mengambil keputusan, dan kadang kala terdapat kesalahan besar dan fatal akibatnya, baik terhadap pamornya  maupun kestabilan kedaulatan dalam negeri Islam sendiri. Dengan demikian,tidak ada lagi kekuatan Islam untuk membendung kebangkitan Kristen di daerah ini[22].
Dalam sejarah, Islam berkuasa di Andalusia lebih kurang sekitar 700 tahun lamanya. Waktu ini bukanlah waktu yang sebentar dalam bentangan sejarah Islam, dan kemajuan pendidikan yang  begitu besarpun dapat dirasakan sampai saat sekarang ini  yang  juga harus diakui dunia baik dari golongan muslim maupun non muslim itu sendiri.
E.     Para Ahli dan Ilmuan yang muncul di Andalusia diantaranya adalah:
Bidang ilmu Fiqh tercantum nama-nama:
  1. Ziyad ibn Abd ar-Rahman
  2.  Ibn Yahya. Yahya sempat menjadi qadhi pada masa Hisyam ibn Abd Rahman.
  3.  Abu Bakar ibn al-Qutiyah
  4. Munzir Ibn Said al-Baluthi
  5.  dan Ibu Hazm yang sangat populer di kala itu
Bidang Bahasa dan Sastra
  1. Termasyhur adalah Ibn Malik yang mengarang kitab Al-Fiyah
  2.  Ibn Sayidih
  3.  Ibn Khuruf
  4.  Ibn Al-Hajj
  5. Abu Ali Al-Isybili
  6. Abu Al-Hasan ibn Usfur
  7.  dan Abu Hayyan Al-Gharnathi.
  8.  Di bidang sastra adalah Ibn Abd. Rabbih dengan karya al-‘Iqd al-Farid, Ibn Bassam dengan karyanya al-Dzakhirah fi Mahasin ahl al-Jazirah, dan Al-Fath ibn Khaqan karya kitabnya al-Qalaid
Bidang Musik dan Seni
  1. Al-Hasan ibn Nafi yang di juluki Ziryad (789-857).Ziryad selalu tampil dalam acara-acara penjamuan kenegaraan di Cordova.
  2. Ibn Qutaibah yang di kenal sebagai ahli Tata Bahasa dan Abu Ali Qali yang di kenal sebagai pakar Biologi.
Bidang Filsafat.
  1. Ibnu Bajjah adalah filosof muslim yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan di Andalus. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Yahya ibn al-Sha’ig,
  2. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy,
  3. Bagian akhir Abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad Ibn Muhammad Rusyd.
Bidang Sains
  1. Abbas ibn farnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia adalah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu.
  2.  Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dengan bintang-bintang.
  3. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan.
  4.  Umm Al-Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan Al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang Sejarah dan Geografi.
1.      Ibn Jubair dari Valensia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri Muslim di Mediterania dan Sicilia.
2.       Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina.
3.       Ibn Al-Khatib(1317-1374 M) menyusun riwayat Granada,
4.      Sedangkan Ibnu Khaldun dari Tunis adalah penulis filsafat sejarah.
Itulah diantara nama-nama para Ahli dan para Ilmuan pada masa peradaban Islam di Andalusia, yang sampai saat sekarang masih harum namanya di kalangan umat Islam.
F.     KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat di simpulkan ;
Kemajuan Eropa  yang terus berkembang sampai saat ini banyak berhutang budi pada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap llmu pengetahuan yang di kembangkan umat Islam di sana serta peradabannya, baik dalam bentuk hubungan poitik, sosial maupun perekonomian dan peradaban antar Negara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan Negara-negara tetangganya di Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik. Yang terpenting di antaranya pemikiran Ibnu Rusyd (1120-1198 M). Ia melepaskan belenggu taklid yang mengajurkan kebebasan berpikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang mengikat minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan Sunnatullah menurut pengertian Islam terhadap pantheisme dan antropomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga Eropa timbul gerakan Averroisme (Ibnu Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak pemikiran rasional yang di bawa gerakan Averroisme ini.










DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Supriadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : CV. Pustaka Setia, 2008.
Nata, Abuddin ,Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009.
Fakhri, Majid, Sejarah Filsafat Islam, (terjemahan), Mulyadi Kartanegara, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986.
Syalaby, Ahmad, Sejarah Pendidikan Islam, (terjemahan) Muchtar Yahya dan Sanusi Latief, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Harun, Maidir, Sejarah Pendidikan Islam, (terjemahan) Muchtar Yahya dan Sanusi Latief, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Nizar, Samsul, Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2000.
Nizar, Samsul, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, Jakarta: Quantum Teacing, 2005.


[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008, hlm.115-116
[2] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 258.
[3] Samsul Nizar, Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2000), hlm. 75.
[4] Abuddin Nata, Ibid., hlm. 263.
[5] Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, (Jakarta: Quantum Teacing, 2005), hlm. 15
[6] Badri Yatim, Op.cit., hlm. 103.
[7] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009, hlm. 98.
[8] Dedi Supriadi, Op.cit., hlm. 98.
[9] Maidir Harun, Sejarah Pendidikan Islam, (terjemahan) Muchtar Yahya dan Sanusi Latief, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 88.
[10] Ahmad Syalaby, Sejarah Pendidikan Islam, (terjemahan) Muchtar Yahya dan Sanusi Latief, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 88.
[11] Abuddin Nata, Op.cit,  hlm. 265.
[12]Abuddin Nata, Ibid., hlm. 266.
[13]  Sirajuddin Zar,Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 185.
[14] Abuddin Nata, Op.cit., hlm. 267.
[15] Sirajuddin Zar, Ibid., hlm. 221.
[16] Ahmad Syalaby, Op.cit., hlm. 86.
[17] Abuddin Nata, Op.cit., hlm. 268.
[18] Majid Fakhri, Sejarah Filsafat Islam (terjemahan), Mulyadi Kartanegara (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986) hlm. 356.
[19] Abuddin Nata, Op cit, hlm. 269.
[20] Badri Yatim, Op cit, hlm. 107.
[21] Ibid., hlm. 108.
[22] Samsul Nizar, Op.cit, hlm. 105.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar